Ada satu tempat yang sudah tiga tahun nempel di kepala gue dan baru kesampaian tahun lalu: Kepulauan Tanimbar. Waktu gue bilang ke teman-teman mau ke sana, respons paling umum adalah, "Tanimbar itu di mana ya?" Jujur, itu justru yang bikin gue makin penasaran.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.
Tanimbar duduk di ujung tenggara Maluku, lebih dekat ke Australia daripada ke Ambon kalau ditarik garis lurus. Ibu kotanya Saumlaki, sebuah kota kecil yang bisa kamu keliling naik motor dalam waktu setengah jam. Nggak ada mal, nggak ada kafe estetik dengan lampu kuning temaram, dan sinyal internet kadang bikin kamu belajar sabar. Tapi justru di situ letak pesonanya.
Baca juga: Hemat Tapi Tetap Seru: Trik Traveling Ala Backpacker untuk Si Sering Jalan
Perjalanan ke Sana Bukan Buat yang Buru-Buru
Mari kita jujur soal satu hal: menuju Tanimbar itu ribet. Dari Jakarta, kamu harus transit dulu ke Ambon, lalu lanjut pesawat kecil ke Bandara Mathilda Batlayeri di Saumlaki. Frekuensi penerbangannya terbatas, jadi jangan kaget kalau jadwalnya tiba-tiba digeser sehari. Gue sendiri sempat nginap semalam nggak terencana di Ambon karena cuaca, dan itu malah jadi bonus — sempat makan ikan kuah kuning di warung pinggir Pantai Natsepa yang rasanya masih gue ingat sampai sekarang.
Alternatif lain adalah kapal Pelni dari Ambon, tapi siapkan waktu dua hari lebih di laut. Beberapa traveler yang gue temui di sana justru sengaja pilih jalur ini. Katanya, "Kalau naik pesawat, kamu cuma sampai. Kalau naik kapal, kamu benar-benar merasakan jaraknya." Gue setuju secara filosofis, tapi perut gue nggak.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Yang bikin Tanimbar terasa istimewa bukan cuma pemandangannya, tapi fakta bahwa kamu harus benar-benar berusaha untuk sampai ke sana.
Pantai yang Belum Sempat Dirusak Instagram
Hari kedua, gue diajak seorang bapak pemilik penginapan ke Pantai Weluan. Perjalanan sekitar satu jam naik motor lewat jalan yang setengahnya beton, setengahnya tanah merah. Begitu sampai, gue diam agak lama.
Pasirnya putih halus banget, air lautnya bergradasi dari tosca ke biru tua, dan yang paling penting — nggak ada siapa-siapa. Serius, cuma gue, bapak itu, dan dua ekor anjing kampung yang entah punya siapa. Nggak ada tukang jualan, nggak ada gapura selfie bertuliskan nama pantai dengan font norak, nggak ada speaker yang menyetel dangdut remix. Cuma suara ombak sama angin.
Selain Weluan, ada juga Pantai Lolonuara dan kawasan Matakus yang jadi favorit warga lokal buat snorkeling. Terumbu karangnya masih sehat, dan kamu bisa lihat ikan warna-warni cuma dengan berdiri di kedalaman sepinggang. Gue bukan penyelam profesional, cuma modal masker snorkel pinjaman, tapi tetap dapat pemandangan yang bikin mata melek.
Sedikit Tips Biar Nggak Nyesal
- Bawa uang tunai secukupnya. ATM ada di Saumlaki, tapi begitu keluar kota, lupakan kartu debit.
- Sewa motor lebih masuk akal daripada mobil. Jalanan sempit dan banyak tanjakan.
- Bawa sunblock dan obat pribadi. Apotek terbatas dan pilihan mereknya seadanya.
- Waktu terbaik berkunjung sekitar Oktober sampai Desember, saat laut relatif tenang.
- Minta izin sebelum memotret warga atau situs adat. Ini bukan formalitas — mereka benar-benar menghargainya.
Yang Bikin Gue Pulang dengan Kepala Berbeda
Di Desa Sangliat Dol, ada situs yang bikin gue merinding: sebuah tangga batu besar yang naik dari arah laut menuju perkampungan, dengan formasi batu berbentuk perahu di puncaknya. Namanya Natar. Menurut cerita yang gue dengar dari tetua desa, tempat itu adalah simbol perahu leluhur yang membawa nenek moyang mereka ke pulau ini ratusan tahun lalu.
Bapak yang menceritakannya bicara pelan, sesekali berhenti, seolah sedang memilih bagian mana yang boleh dibagi ke orang luar. Gue nggak merekam apa-apa. Rasanya nggak pantas. Kadang ada momen di perjalanan yang lebih baik disimpan di ingatan daripada di memori ponsel.
Tanimbar juga terkenal dengan tenun ikatnya. Motifnya rumit, warnanya cenderung gelap dengan garis-garis merah dan krem, dan proses pembuatan satu kain bisa makan waktu berminggu-minggu. Gue beli satu selembar dari seorang ibu di pasar Saumlaki. Harganya nggak murah — dan setelah lihat sendiri gimana pengerjaannya, gue merasa harga itu justru masih terlalu rendah.
Soal Makanan, Siap-Siap Jatuh Cinta
Ikan di sini segarnya kelewatan. Bukan segar versi restoran seafood di kota yang "baru datang pagi tadi", tapi segar versi baru ditarik dari laut dua jam lalu. Menu andalannya ikan bakar colo-colo, dengan sambal berisi irisan tomat, bawang merah, cabai rawit, dan perasan jeruk nipis. Sederhana, tapi bikin nambah nasi terus.
Ada juga enbal, makanan pokok dari singkong khas Maluku Tenggara yang teksturnya keras dan agak asing di lidah orang Jawa seperti gue. Awalnya gue kurang cocok, tapi setelah tiga hari, malah kangen sendiri. Lucu ya, lidah itu.
Perlu Nggak Sih Kamu ke Sana?
Kalau kamu tipe traveler yang butuh kenyamanan, banyak pilihan kuliner, dan spot foto yang sudah jelas bagusnya — Tanimbar mungkin bukan tempatmu. Penginapannya sederhana, transportasi terbatas, dan kadang rencana harus berubah karena cuaca atau karena kapalnya nggak jadi berangkat.
Tapi kalau kamu lagi capek sama keramaian dan pengen merasakan Indonesia yang belum dipoles buat konsumsi turis, gue rekomendasikan banget. Ada sesuatu yang menenangkan dari duduk di pantai kosong sambil sadar bahwa tempat sebagus ini masih ada, masih utuh, dan belum jadi rebutan.
Baca Juga: Masukkan sedikit tantangan ke harimu lewat pilihan permainan!
Satu hal yang gue harap: kalau nanti Tanimbar mulai ramai — dan cepat atau lambat pasti begitu — semoga yang datang adalah orang-orang yang datang untuk menghargai, bukan sekadar mencentang daftar. Karena tempat seperti ini nggak butuh lebih banyak pengunjung. Yang dibutuhkan cuma pengunjung yang tepat.
Gue sendiri sudah niat balik lagi tahun depan, kali ini lebih lama, dan mungkin nekat coba jalur kapal. Doakan perut gue kuat.