Gue pensiunan guru SMA. Dua tahun lalu resmi lepas seragam, lepas absen pagi, lepas rapat-rapat yang bikin kepala pusing. Awalnya senang. Bangun siang, nonton TV, berkebun kecil-kecilan di belakang rumah. Tapi masuk bulan ketiga, ada rasa aneh. Kayak ada yang kurang. Bukan kurang uang, bukan kurang kegiatan. Kurang rasa jalan.
Istri gue yang ngusulin: "Pak, kita coba naik kereta aja. Nggak usah buru-buru. Satu bulan, keliling Jawa." Gue ketawa dulu. Satu bulan? Naik kereta? Kita kan bukan anak muda yang bisa tahan duduk lama. Tapi ya, kita coba. Dan ternyata, sebulan itu mengubah banyak hal. Bukan cuma soal tempat yang kita lihat, tapi cara gue memandang hari-hari pensiun.
Kenapa Kereta, Bukan Pesawat atau Mobil?
Dulu, tiap kali mau jalan jauh, gue selalu mikir pesawat. Cepat, praktis. Atau kalau bawa mobil, bisa mampir ke mana-mana. Tapi kereta punya satu hal yang dua moda itu nggak punya: ritme. Kereta nggak bisa ngebut seenaknya. Dia jalan sesuai jalur, sesuai jadwal, dengan kecepatan yang bikin kita sempat melihat pemandangan.
Baca juga: Sering Traveling? 7 Tanda Ini Bikin Liburanmu Berantakan Sejak Awal
Duduk di kursi kereta ekonomi, jendela besar di samping, sawah hijau lewat pelan-pelan. Kadang ada sungai kecil, kadang ada anak-anak yang melambai dari pinggir rel. Hal-hal kecil begini yang dulu nggak pernah gue perhatikan waktu masih kerja. Dulu gue selalu buru-buru. Sekarang, gue punya waktu.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.
Istri gue bilang, "Ini kayak terapi, Pak." Dan dia benar. Di kereta, nggak ada yang bisa kita kerjakan selain duduk, ngobrol, baca buku, atau tidur. Nggak ada notifikasi rapat, nggak ada target. Cuma kita, kereta, dan pemandangan yang berganti.
Rute yang Kami Pilih: Pelan Tapi Pasti
Kami nggak langsung beli tiket Jakarta-Surabaya sekali jalan. Kami bagi perjalanan jadi beberapa etape. Seminggu pertama Jakarta-Yogyakarta. Berhenti tiga hari di Yogya, jalan-jalan ke Kotagede, makan gudeg di warung pinggir jalan. Lanjut Yogya-Solo, Solo-Madiun, Madiun-Surabaya. Dari Surabaya, kami naik kereta ke Malang, lalu ke Banyuwangi. Total hampir sebulan. Putaran pertama mungkin terasa asing, tapi setelah itu kamu ketagihan!
Yang bikin beda dari perjalanan biasa: kami nggak punya target "harus lihat ini, harus foto di situ." Kami cuma punya satu target: sampai. Kalau capek, ya istirahat. Kalau ada kota yang menarik, ya turun.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Kota-Kota Kecil yang Bikin Jatuh Cinta
Madiun, misalnya. Kami nggak pernah niat berhenti di Madiun. Tapi kereta berhenti lama di stasiun, kami iseng turun, cari penginapan murah dekat alun-alun. Ternyata kotanya tenang. Pagi-pagi ada pasar tradisional yang jualan pecel dan nasi sayur. Harganya? Murah banget. Kami sarapan berdua cuma Rp 20 ribu. Duduk di bangku panjang, ngobrol sama pedagang yang usianya sebaya kita.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Di Banyuwangi, kami sewa motor dan keliling ke Pantai Pulau Merah. Jalanannya bagus, udaranya segar. Kami duduk di pasir sampai matahari terbenam. Nggak ngomong apa-apa. Cuma duduk. Dan itu cukup.
Perubahan yang Gue Rasain Setelah Sebulan
Ini bagian yang paling penting. Bukan soal tempatnya, tapi soal gue sendiri. Ada beberapa hal yang berubah setelah sebulan naik kereta keliling Jawa.
- Gue jadi lebih sabar. Nunggu kereta telat 20 menit? Biasa. Dulu gue bisa ngomel-ngomel. Sekarang, gue cuma duduk, beli kopi, baca koran.
- Gue jadi lebih hemat. Aneh, tapi bener. Karena nggak buru-buru, gue nggak beli hal-hal yang nggak perlu. Nggak beli suvenir mahal, nggak makan di restoran mewah. Cukup warung, cukup kaki lima.
- Gue jadi lebih dekat sama istri. Di rumah, kita sibuk sendiri-sendiri. Di kereta, kita ngobrol berjam-jam. Tentang masa muda, tentang anak-anak, tentang rencana yang dulu nggak kesampaian.
- Gue jadi lebih menghargai hal kecil. Secangkir teh di stasiun kecil, senyum petugas loket, suara pengumuman yang khas. Hal-hal yang dulu lewat begitu saja.
Ada satu momen yang nggak akan gue lupa. Di kereta jurusan Banyuwangi, kami duduk sebelah seorang bapak tua. Umurnya mungkin 75. Dia cerita, dia baru saja kehilangan istrinya setahun lalu. Sekarang dia keliling Jawa sendirian, naik kereta, turun di kota mana saja yang dia mau. "Saya nggak mau sedih terus," katanya. "Saya mau lihat Indonesia sebelum saya nggak bisa lihat apa-apa lagi."
Perjalanan itu bukan soal sampai ke mana. Tapi soal siapa kita setelah pulang.
Bukan Cuma Tempat, Tapi Cara
Kalau kamu pensiunan dan lagi bingung mau ngapain, gue saranin coba kereta. Nggak usah jauh-jauh dulu. Coba Jakarta-Bandung, atau Surabaya-Malang. Satu-dua hari. Rasain ritmenya. Rasain duduknya. Rasain ngobrolnya.
Yang penting, jangan bawa ekspektasi macam-macam. Jangan bawa target. Bawa tas kecil, bawa obat-obatan, bawa buku, dan bawa pasangan atau teman. Sisanya, biar kereta yang atur.
Gue nggak bilang ini cara terbaik. Tapi buat gue, ini cara yang pas. Pensiun bukan akhir dari perjalanan. Justru ini awal dari perjalanan yang nggak dikejar-kejar waktu. Dan kereta, dengan suara rodanya yang teratur, adalah pengingat yang baik: hidup ini jalan pelan-pelan saja, yang penting terus jalan.
Kalau ada yang tanya, "Pak, capek nggak?" Jawabannya: capek. Tapi capek yang menyenangkan. Capek yang bikin kita tidur nyenyak, bangun pagi dengan rasa penasaran, dan pulang dengan cerita. Bukan cerita buat dipamerkan, tapi cerita buat diri sendiri. Dan buat istri, yang duduk di sebelah, yang tersenyum waktu gue bilang, "Ayo, kita lanjut lagi bulan depan."